Kamis, 14 November 2019

Yahya bin Aktsam


                Yahya bin Aktsam, hakim pada pemerintahan Al-Makmun sekaligus temannya pernah dibicarakan bahwa ia adalah orang yang kecanduan khamar dan bahwa pada suatu malam, ia mabuk, lalu ditidurkan di taman bunga yang wangi hingga ia tersadar. Mereka lantas mendendangkan syair Yahya bin Aktsam :
                “Wahai tuanku dan pemimpin umat manusia
                Sungguh berlaku hukumnya bagi orang yang meminumiku
                Aku lalai dari pelayan minum hingga membuatku
                Seperti yang kau lihat, hilang akal dan agama.”
                Kondisi Ibnu Aktsam dan Al-Makmun dalam hal itu sama dengan kondisi Ar-Rasyid. Minuman mereka hanyalah perasan kurma yang tidak sampai membuat mabuk. Ini tidak diharamkan menurut mereka. Adapun bermabuk-mabukan bukanlah perilaku  mereka. Pertemanannya dengan Al-Makmun karena ikatan agama.
                Mennurut riwayat yang shahih, disebutkan bahwa Ibnu Aktsam sering tidur bersama Al-Makmun di rumahnya. Disebutkan bahwa suatu malam Al-Makmun terbangun dalam keadaan haus. Dengan sangat hati-hati ia bangkit untuk mencari minuman karena khawatir ia akan membangunkan Yahya bin Aktsam.
                Yahya bin Aktsam merupakan seseorang yang menjadi rujukan para ulamma’ ahli hadits. Imam Ahmad bin Hambali dan Ismail Al-Qadhi menyanjungnya. Imam At-Tirmidzi menggunakan riwayatnya dalam kitab Al-Jami’.
                Pada suatu ketika, Yahya bin Aktsam dituduh bernafsu terhadap anak-anak muda. Mereke berdusta atas Nama Allah dan para ulama’ dengan mengambil kisah-kisah palsu dari para tukang cerita, yang bisa jadi cerita tersebut adalah  buatan musuh-musuhnya. Hal itu karena kedekatannya dengan Al-Makmun yang menerbitkan dengki di hati orang-orang. Padahal  kondisi keilmuan dan keagamaannya suci dari hal-hal  seperti itu.
                Ahmad bin Hambal pernah mendengar tuduhan orang-orang terhadap Yahya bin Aktsam. Maka Ahmad bin Hambal berkata, “Subhanallah! Subhanallah! Siapakah yang mengucapkan ini?” Ia sangat mengingkari tuduhan-tuduhan tersebut.
                Ismail bin Al-Qadhi memujinya, lalu ia dilapori dengan cerita-cerita tersebut. Maka ia berkata, “ aku berlindung kepada Allah dari sesuatu yang dituduhkan kepadanya tentang masalah anak-anak muda. sungguh, aku telah mengetahui rahasia-rahasianya dan aku melihatnya sebagai orang yang sangat takut kepada Allah SWT. Akan tetapi, ia orang yang suka bercanda dan baik pergaulannya, sehingga mendapat tuduhan-tuduhan tersebut”.
                Ibnu Hibban juga telah memasukkannya ke dalam daftar orang-orang yang tsiqah (tepercaya) dan berkata, “tidak perlu diperhatikan apa yang dikisahkan mengenaik dirinya karena kebanyakannya adalah dusta”.

Sumber : Kitab Muqodimah karya Ibnu Khaldun



Tidak ada komentar:

Posting Komentar