Dikecewakan
manusia. Wajar. Kenapa? Karena kecewa berasal dari harapan yang tidak sesuai
dengan bayangan atau ekspektasi kita. Dan manusia bukan tempat yang tepat untuk
menggantungkan sebuah “harapan”. Hei,
harapanmu selalu berharga, harapanmu selalu ada nilaninya, sekecil
apapun “celetukan” yang ada di benakmu. Dan kau salah menitipkannya kepada
manusia. Karena manusia memiliki batasan dalam segala aspek penciptaannya. Dan
manusia terbatas dalam mengerti sebuah “rasa”. Lantas, kau mau menyalahkannya
karena “keterbatasannya”? tentu, tidak semua salahmu. Kau tetap punya
kebebasan untuk menyerahkan kepada siapa
harapanmu. Kepada dirimu sendiri, orang lain, atau entah siapa. Tapi, aku
belajar dari beribu kekecewaanku sebelumnya, bahwa tempat yang tepat untuk
menitipkan harapan adalah kepada Sang Pencipta Rasa. Kenapa? Karena Allah
sendiri yang menciptakan rasa tersebut. Harapan. Keinginan akan sesuatu. Lalu
kepada siapa lagi kita kembalikan harapan kita? Siapa lagi yang lebih berhak
menjadi penentu final sebuah harapan? Sebuah do’a? Yah, aku tidak berniat
menjadi yang paling “suci” disini, karena sampai saat ini aku masih sering
merasa kecewa karena ulah “manusia”. Sebenarnya wajar saja kukira, sambil jalan, mencoba merubah mainset tentang
“kepada siapa aku bercerita, kepada siapa aku berharap?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar