Sabtu, 21 September 2019

Merasa kecewa?

                Dikecewakan manusia. Wajar. Kenapa? Karena kecewa berasal dari harapan yang tidak sesuai dengan bayangan atau ekspektasi kita. Dan manusia bukan tempat yang tepat untuk menggantungkan sebuah “harapan”. Hei,  harapanmu selalu berharga, harapanmu selalu ada nilaninya, sekecil apapun “celetukan” yang ada di benakmu. Dan kau salah menitipkannya kepada manusia. Karena manusia  memiliki  batasan dalam segala aspek penciptaannya. Dan manusia terbatas dalam mengerti sebuah “rasa”. Lantas, kau mau menyalahkannya karena “keterbatasannya”? tentu, tidak semua salahmu. Kau tetap punya kebebasan  untuk menyerahkan kepada siapa harapanmu. Kepada dirimu sendiri, orang lain, atau entah siapa. Tapi, aku belajar dari beribu kekecewaanku sebelumnya, bahwa tempat yang tepat untuk menitipkan harapan adalah kepada Sang Pencipta Rasa. Kenapa? Karena Allah sendiri yang menciptakan rasa tersebut. Harapan. Keinginan akan sesuatu. Lalu kepada siapa lagi kita kembalikan harapan kita? Siapa lagi yang lebih berhak menjadi penentu final sebuah harapan? Sebuah do’a? Yah, aku tidak berniat menjadi yang paling “suci” disini, karena sampai saat ini aku masih sering merasa kecewa karena ulah “manusia”. Sebenarnya wajar saja kukira, sambil  jalan, mencoba merubah mainset tentang “kepada siapa aku bercerita, kepada siapa aku berharap?”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar